Kamis, 08 Januari 2009

ANALISIS CERPEN KECUBUNG PENGASIHAN

download doc

A. Pendahuluan

Strukturalisme genetic ialah cabang penelitian sastra secara structural yang tak murni. Ini merupakan bentuk penggabungan antara structural dengan metode penelitian sebelumnya. Konvergensi penelitian structural dengan penelitian yang memperhatikan aspek-aspek eksternal karya sastra. Karya sastra tidak sekedar fakta imajinatif atau pribadi, melainkan dapat merupakan cerminan atau rekaman budaya, suatu perwujudan pikiran tertentu pada saat karya dilahirkan. Karya sastra, disamping memiliki unsure otonom juga tidak bisa lepas dari unsure ekstrinsik. Teks sastra sekaligus mempresentasikan kenyataan sejarah yang mengkondisikan munculnya karya sastra. Bagi Gooldmann, studi strukturalisme genetic memiliki dua kerangka, yakni (1). hubungan antara makna suatu unsure dengan unsure lainnya dalam suatu karya sastra yang sama, (2). Hubungan tersebut membentuk suatu jaring yang saling mengikat. Karena itu, pengarang tidak mungkin mempunyai pandangan sendiri.

Strukturalisme genetic memandang karya sastra dari dua sudut yaitu intrinsic sebagai data dasarnya, dan ekstrinsik dengan realitas masyarakatnya. Karya sastra sebagai struktur bermakna akan mewakili pandangan dunia (vision de monde) penulis, tidak sebagai individu melainkan sebagai anggota masyarakatnya. Dengan demikian, strukturalisme genetic merupakan penelitian sastra yang menghubungkan antara struktur sastra dengan struktur masyarakat melalui pandangan dunia atau ideology yang diekspresikannya.

B. Danarto sang Penulis Sufistik dan Mistik

Banyak pengamat yang menyebut Danarto sebagai salah satu sastrawan Indonesia yang bekerja berdasarkan sufisme dan mistik. Hal ini terlihat dari karya-karyanya yang memiliki ciri abstrak, sangat imajinatif, dan bersifat ketuhanan. Sama halnya dengan beberapa penulis seperti Abdul Hadi WM, Sutarji Colzoum Bachri, dan Kuntowijoyo. Bahkan, seorang pengamat memasukkannya ke dalam angkatan tahun 1970-an, yang dicirikan dengan sifat-sifat karya sufistik.

Rupanya landasan sufisme hanya menjadi permulaan pada setiap karya Danarto. Ia tidak sepenuhnya berada pada dunia fantasi (seperti perempuan hamil makan bunga-bunga itu), tetapi juga berangkat dari kutub realitas social. Perempuan hamil terpaksa makan bunga-bunga layaknya ia makan sayur-mayur, karena ia kalah bersaing memperebutkan sisa makanan dengan gelandangan lain yang tentu lebih cekatan. Dalam cerpen Kecubung Pengasihan (1968), Danarto mengisahkan perempuan yang hamil tua itu menyambung hidup dengan memakan bunga-bunga. Berkat menjalani laku "kesengsaraan", ia akhirnya bertemu dengan Tuhan, bahkan jatuh sambil menangis ke pangkuanNya. "Kesengsaraan" wanita tersebut selama di dunia, menjadi wakil dari kesengsaraan masyarakat miskin di Indonesia. Pada tingkat status social itu, memang ada beberapa orang yang sengsara jiwa dan raga. Seperti wanita hamil itu, ia lemah secara fisik karena kehamilannya mengurangi kecekatannya dalam memperebutkan makanan sisa. Disamping itu, statusnya sebagai orang yang dianggap gila oleh gelandangan lain semakin memperpuruknya. Padahal "ketidakwarasannya" sebagai pemakan bunga dibentuk oleh masyarakat sekitarnya, yakni teman-temannya sendiri, selaku gelandangan. Begitulah masyarakat miskin di Indonesia. Yang miskin semakin miskin, yang hina semakin hina.

C. Kecubung Pengasihan, Kerinduan si Miskin pada sang Tuhan

Sebagai penulis cerpen yang memiliki gaya sufistik dan mistik, Danarto memberikan tema social, agama dan budaya dalam cerpen Kecubung Pengasihan ini. Banyak pembagian dari tema sosial tersebut diantaranya, kultur masyarakat Indonesia pada sekitar tahun 1965 (karena cerpen ini dibuat pada tahun 1968) yang masih berada di bawah garis kemiskinan; agama (pencarian hakikat ketuhanan), kebaikan dan keburukan dalam kehidupan, kritikan pada suatu keadaan masyarakat dan sebagainya.

Danarto adalah penulis yang suka membicarakan hal-hal serius dengan cara yang santai. Hal ini terlihat dari cara bercerita dalam cerpennya. Ia menggambarkan kesantaiannya dengan kejadian bunga-bunga yang dapat berbicara dan berkomunikasi dengan perempuan hamil itu. Sungguh imajinatif. Namun, sebenarnya di balik itu ada hal serius yang ingin dikemukakan oleh Danarto, seperti pengorbanan, dan kesengsaraan misalnya. Bunga-bunga itu rela berkorban dimakan si perempuan, demi reinkarnasi yang begitu abstrak.

Ketidakmampuan perempuan bunting itu dalam mencari makanan menunjukkan betapa sengsaranya masyarakat kalangan bawah pada masa itu. Hal ini dikaitkan dengan tahun dibuatnya cerpen. Pada tahun sekitar itu, adalah masa krisis moneter parah di Indonesia. Saat itu Indonesia mengalami inflasi, sampai-sampai menteri ekonomi mengadakan program sanering (pemotongan uang).

Kesabaran perempuan bunting dalam menghadapi kesengsaraan hidup akhirnya menghasilkan suatu kebahagiaan yang baginya lebih hakiki dibandingkan kebahagiaan di dunia. Kebahagiaan ini digambarkan dengan bertemunya perempuan bunting itu dengan banyak laki-laki yang ternyata semua lelaki tersebut adalah orang istimewa. Keistimewaan para lelaki tersebut seperti keistimewaan para nabi. Penderitaan dan kesengsaraan yang didapatnya di dunia semakin membuatnya merindukan Tuhan. Kepasrahannya terhadap hidup, membuat kerinduannya terhadap Tuhan pun tersampaikan juga. Ia akhirnya meninggal, dan bertemu dengan Tuhannya.




0 comments:

Poskan Komentar

 

  © 2009 Supaat I Lathief

Think Of Logic Blogger Template by Supaat I Lathief