Kamis, 01 Januari 2009

PSIKOLOGI EGO DAN HUMANISME PENDIDIKAN IQBAL

download doc

Iqbal oleh beberapa penulis dianggap sebagai seorang tokoh penting dalam perkembangan Islam modern. Ia dianggap sebagai salah seorang penganjur reformasi dalam dunia pemikiran Islam. Salah satu karakteristik umum dari modernisme Islam adalah menentang filsafat dan tasawuf yang dianggap sebagai faktor kemunduran Islam.

Dalam beberapa tulisannya, Iqbal pernah mengkritik filsafat atau tasawuf. Yang menjadi sasarannya bukanlah tanpa sebab dan kualifikasi terutama tasawuf yang bersifat pesimistis dan spikulatif. Bahkan, Iqbal mengutuk tasawuf yang bersifat pesimistis yang sudah kemasukan unsur filsafat Hellenisme dan Parsianisme, yang menurutnya mengajarkan untuk menutup mata terhadap kenyataan yang ada. Akibatnya terjadi kemerosotan di dunia Islam, namun di balik itu, Iqbal adalah seorang filosof dan sufi. Ia percaya pada supremasi intuisi atas intelek, supremasi psikis atas dunia fisik (wadag).

Karena intuisi seorang dapat membangun dinding-dinding ruang dan waktu untuk memperoleh wahyu langsung tentang misteri Ego, tentang Keabadian dan Kemerdekaannya. Wahyu tersebut tidak bisa dicapai melalui supremasi intelek saja karena manusia harus berlindung pada suatu pengalaman yang anekdotal (memiliki tipe sangat khusus). Berkat supremasi intuisi kita bisa menangkap dan memahami Realitas Mutlak.

Muhammad Iqbal terlahir dari keturunan Brahmin yang hidup di lembah Kashmir. Ayahnya sudah masuk Islam dan mengganti namanya dengan Nur Muhammad. Iqbal dilahirkan di Sialkot, Punjab pada tanggal 22 Februari 1873. Selain itu di dalam keluarga ia mendapatkan pendidikan agama dari Syamsul ‘Ulama Maulana Mir Hasan, seorang guru agama sahabat ayahnya. Kepada para guru agama inilah Iqbal merasa berhutang budi dan mendapat semangat keislamannya yang kemudian hari sangat menentukan garis kehidupannya.

Dari Sialkot ia pergi ke Lahore untuk melanjutkan pelajarannya pada Lahore University. Iqbal memang seorang geni yang cerdas. Pada tahun 1905 ia mencapai kesarjanaannya pada universitas tersebut dalam ilmu filsafat dengan predikat cumlaude. Pada tahun itu pula ia melancong ke London, belajar pada Cambridge University. Inilah permulaan ia hidup dalam kancah peradaban Barat yang otentik dan menghayatinya melalui tangan pertama. Ia seorang pencari ilmu (knowledge seeker) yang luar biasa gigih dan kritis, dan seorang pengamat sosial kemasyarakatan yang tajam. Sebagaian sumber menyebutkan bahwa ia menamatkan pelajaran di Cambridge University dalam ilmu hukum, sebagaian yang lain dalam ilmu filsafat dan ekonomi.

Tentang filsafat, sebenarnya perhatian Iqbal terhadap bidang tersebut sudah terlihat sebelum ia pergi ke Eropa untuk meneruskan belajarnya. Hal ini dapat dibuktikan dengan tulisannya The Doctrine of Absolute Unity as Expounded by Abdul Karim Al-Jilli, September 1890. Studi tentang pemikiran al-Jilli yang terkenal melalui tulisannya al-Insan al-Kamil diteruskan Iqbal ketika ia belajar di Munich University, Jerman. Dan gelar doktor dalam ilmu filsafat dicapai setelah mempertahankan desertasinya berjudul Development of Metaphysies in Persia, yaitu tentang filsafat dan pemikiran al-Jilli.

KONSEPSI EGO

Sesuai dengan tema tulisan ini, pertama kali kita harus mencari konsepsi ego yang merupakan konsep yang mendasari filsafat Iqbal serta dasar penopang keseluruhan struktur pemikirannya. Konsepsi egi ini dituangkan dalam bentuk puisi-puisi artistik yang terkumpul dalam Asrar-i Khudi (Rahasaia Diri) dan dikembangkan dalam ceramah-ceramah yang terkumpul dalam buku monumentalnya The Reconstruction of Religious Though in Islam.

Dengan ego (individualisasi), Iqbal telah melakukan perintisan dalam menafsirkan kembali seluruh khazanah warisan peradaban Islam yang diintegrasikan dalam bangunan ilmu dan filsafat kontemporer.

Pembebasan, emansipasi kemanusiaan, identitas dan kemandirian yang pada saat ini menjadi tema sentral bagi pembangunan kemanusiaan telah lama dikumandangkan Iqbal melalui puisi-puisinya secara filosofis dan sufistis. Kehidupan yang penuh keintiman tetapi juga sekaligus ketegangan, merupakan idealisme ego Iqbal. Suatu ketegangan berupa penyerbuan lingkungan ke dalam ego sekaligus penyerbuan ego ke luar lingkungnanya. Suatu ketegangan yang berupa living intimacy of relationship, keakraban yang hidup dari hubungan antara individualitas dan lingkungannya. Ketegangan yang penuh keintiman inilah yang akan memperkuat arus stimulus kehidupan sosial dan sekaligus mendorong ego (individualisasi) ke arah konstruktif dan kreatif. Ketegangan ini merupakan bentuk rekonstruksi sosial budaya atas dasar nilai-nilai moral yang kokoh yang bersumber pada tauhid sebagai working idea dari Kalam Illahi: al-Quran dan al-Hadits.

Pembudayaan dan sivilisasi ego merupakan suatu hasil usaha dan perjuangan terhadap berbagai ketentuan yang muncul dari luar, maupun terhadap berbagai bentuk kecenderungan penghancuran diri yang tersembunyi di balik diri manusia itu sendiri.

Lebih lanjut Iqbal mengatakan bahwa pendidikan dan kehidupan ego merupakan semacam ketegangan yang timbul karena adanya desakan dari ego yang menembus mempengaruhi lingkungan serta desakan dari lingkungan yang menerobos mempengaruhi ego.

Ego manusia mempunyai tingkat realitas tertinggi di antara makhluk Tuhan yang lain. Diri (self) dan ego tidak bisa dipisahkan. Ego selalu berusaha sebanyak mungkin menjadi sama dan satu (identifikasi) dengan diri. Tanpa perkembangan dari ego tidak terjadi perkembangan untuk diri.. Karena ego ialah satu-satunya sumber kreativitas dan pembaharuan, perkembangan selalu mulai dengan perkembangan ego. Karena kreativitas manusia mampu mengembangkan egonya pada derajad yang lebih tinggi. Tujuan perkembangan ini ialah mendekatkan diri pada Ego Terakhir, yaitu Tuhan.

Ego manusia bersifat teleologis. Hal ini berarti bahwa selama proses hidup itu tumbuh dan meluas, selalu terjadi pembentukan progresif dari tujuan-tujuan, nilai-nilai ideal yang baru. Ego manusia bertujuan mendapat individualitas yang makin lapang dan unik untuk menggunakan seluruh lingkungannya yang beraneka ragam itu sebagai lingkungan tempat ia beramal dan berbuat sepanjang arus kehidupan yang tidak pernah berakhir. Dan ini hanya mungkin kalau manusia menumbuhkan sifat-sifat ketuhanan dalam dirinya untuk hidup bermasyarakat.

Di bawah ini bagaimana sivilisasi ego Iqbal tercermin dalam pertalian erat antara individu dan masyarakat melalui puisi-puisinya.

Jatidiri, dan hidup
Kapan saja dia muncul
Dari pengasinagnnya, dan dengan tangkas melangkah
Menuju pusat keriuhan gejala-gejala
Hatinya tercetak dalam cap ‘dia’
‘Aku’ lenyap berubah jadi ‘kau’
Paksaan mematahkan kebebasan pilihannya
Membuatnya dia kaya dalam cinta
Sementara kebanggaan diri
Membuat dirinya jauh, tanpa kemerdekaan hati
Untuk maujud, Diri harus menafikan dirinya
Di dalam masyarakat, sehingga tiada lagi
Kelopak, kecuali sekuntum mawar
Rahasia tersembunyi ini bagaikan pedang berkilat,
Jika mereka menundukkan kepandaianmu,
cepatlah
Kau lari menjauh!

HUMANISASI PENDIDIKAN

Konsepsi Iqbal tentang ego (individualitas) tercermin dalam kumpulan puisi Asrar-i Khudi, merupakan landasan utama dalam memberikan pengertian mendasar tentang pendidikan. Filsafat pendidikan diambil dari filsafat ego. Dikatakan bahwa tujuan utama pendidikan Iqbal adalah menumbuhkembangkan ego manusia kepada Ego Mutlak.

Mengembangkan ego melalui pendidikan haruslah diusahakan pengembangan kebebasan dan kreativitas. Karena dengan berorientasi terhadap kebebasan dan kreativitas seorang peserta didik maka kita mengakui hakikat kemanusiaan secara fitriah (human being). Dan inilah konsepsi Iqbal tentang ego yang mengacu kepada kebebasan dan kreativitas yang harus dikembangkan melalui pendidikan watak dan agama.

Dalam filsafat pendidikan, Iqbal menegaskan dengan penuh keyakinan bahwa ego manusia itu kreatif dan pengembaraannya (prosesnya) mempunyai tujuan yang pasti. Kreativitas inilah terletak perbedaan manusia dengan makhluk yang lebih rendah. Dengan demikian ego merupakan kekuatan kreatif yang senantiasa bergerak maju tanpa henti. Lingkungan yang ditembus dan ditaklukan menurut kemauan sang ego. Yaitu dengan membangkitkan dalam pribadi manusia itu suatu pandangan yang segar mengenai asal muasal dan kejadian akhir manusia di masa depan. Oleh karena itu, pendidikan pun hendaknya diselimuti dan dijiwai oleh semangat dan jiwa keagamaan secara mendalam (spirit of Islam).

Tujuan pendidikan yang dikejar ego bukanlah sekadar emansipasi dari berbagai keter-batasan individual. Yang hendak dicapainya adalah penentuan individualitas yang lebih mantap. Tujuan akhirnya bukan sekadar kegiatan intelektual, malainkan tindakan yang memperdalam keseluruhan dan integritas serta mempertajam kemauan desertai dengan keyakinan yang kreatif. Dengan konsepsi ini memandang dunia yang ada bukanlah sesuatu yang sekadar cukup dilihat dan dikenal memalui berbagai konsep pandangan tertentu, melainkan sesuatu yang harus diciptakan dan dibuat kembali melalui kegiatan dan aktivitas yang berkesinambungan. Inilah cita-cita kependidikan Iqbal, yang membentuk manusia-manusia unggul yang mendasarkan ketentuan-ketentuan tauhiddiyah.

Hal ini berbeda dengan manusia unggul Nietzsche yang antiagama. Memeng betul keduanya bertujuan untuk mencapai tipe manusia unggul yang didambakan. Tetapi manusia unggul versi Nietzsche adalah reinkarnasi dari kekuatan kemauan (the will to power) yang ganas tanpa belas kasih; sedangkan manusia unggul versi Iqbal menemukan sasaran dan kekuatannya dalam cinta, dan di atas cintalah ia menjelmakan dunia. Di sinilah Iqbal memandang seluruh umat manusia adalah sama belaka. Nyata sekali pandangan-pandangan Iqbal tentang filsafat fenomenologis yang sekaligus humanistik-teistik yang diracik dengan semburan-semburan wahyu Illahi sebagai working idea bagi terbentuknya tatanan sosial budaya yang berdasarkan moralitas Islam.

2 comments:

ummi mengatakan...

keren

Supaat I Lathief mengatakan...

wow

Poskan Komentar

 

  © 2009 Supaat I Lathief

Think Of Logic Blogger Template by Supaat I Lathief