Kamis, 01 Januari 2009

GURU: SERBUAN MEDIA, HIMPITAN EKONOMI, DAN TUNTUTAN MASYARAKAT

download doc

Hasil penelitian dan pengamatan Pakar Pendidikan Islam STAIN Malang Drs. Muhaimin, MA menyebutkan peran dan fungsi guru saat ini masih jauh dari ideal. Akibatnya proses internalisasi ilmu tak pernah sampai kepada siswa. Sehingga perkembangan amaliah siswa cenderung menurun dan akhirnya memunculkan degradasi moral (Radar Malang, 20 Maret 2002). Sebuah idealisme yang menjadi dambaan setiap guru maupun masyarakat.

Namun setelah realitas itu berbenturan dengan ekonomi, peran dan fungsi ideal tersebut akhirnya terabaikan. Apalagi pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi membuat orientasi masyarakat pun berubah. Guru hidup di tengah-tengah masyarakat dengan berbagai tuntutan kebutuhan hidup. Guru memiliki keluarga yang harus diperhatikan pendidikannya, buku-buku penunjang dan tuntutan-tuntutan lain dalam mengantisipasi perkembangan masyarakat menuju sebuah global village. Hal inilah membuat peran, fungsi apalagi citra guru menjadi pembicaraan yang tak pernah habis dan selalu menjadi bahan tertawaan sepanjang masa. Ironis sekali profesi guru. Masyarakat luas sangat-sangat paham bahwa permasalahan mendasar yang dialami guru selama ini adalah masalah ekonomi (baca: kesejahteraan).

Kita sekarang memasuki masyarakat ilmu pengetahuan (knowledge society). Bukan lagi tenaga kerja, atau sumber alam, atau sumber energi, melainkan ilmu pengetahuanlah yang menentukan dunia. “Kedatangan masyarakat ilmu pengetahuan ini tentu saja mempunyai dampak luas pada dunia pendidikan. Sekolah akan mengalami perubahan jauh lebih besar dalam waktu 30 tahun mendatang ini dibandingkan perubahan yang telah terjadi sejak ditemukannya buku cetak.” Demikian ulasan Peter F. Drucker dalam tulisannya The 1990s and Beyond (1990). Dampak pada pendidikan tentu saja sekaligus juga berpengaruh pada peran guru di sekolah.

Dulu, sampai dengan tahun-tahun 1960-an guru boleh dikatakan merupakan satu-satunya pusat dan sumber informasi bagi siswa. Sekarang, dengan pesatnya perkembangan teknologi komunikasi, guru mulai kehilangan peran tersebut. Keadaan ini (kesenjangan komunikasi) menimbulkan keadaan yang menyulitkan para guru seperti ditulis Alvin Toffler dalam Powershift (1990): guru menghadapi para siswa yang semakin banyak menghujaninya dengan pertanyaan-pertanyaan. Semakin besar kesenjangan antara apa yang diterima siswa dari para guru di kelas dengan apa yang diterima melalui jaringan media komunikasi, akan semakin bertubi-tubi pertanyaan para siswa.

Melalui jaringan media komunikasi yang sudah mendunia, segala jenis informasi, termasuk perkembangan ilmu pengetahaun dan teknologi dapat mencapai para siswa. Sehingga, siswa yang mempunyai sarana untuk mendapatkan akses ke jaringan media komunikasi dunia tersebut, bisa mendapatkan informasi yang lebih cepat dan mendalam daripada guru. ‘Birth of tragedy’ (meminjam istilah Nietzsche) profesi guru. Secara sosial ekonomi hal ini sangat menyudutkan guru dengan kapasitas serba minim. Namun dalam tataran global hal tersebut niscaya, walau media komunikasi lebih banyak disalahgunakan sebagaian besar siswa. Seperti beberapa waktu lalu, banyak siswa SMU di Malang menggunakan media komunikasi ini justru untuk ‘nyontek’ jawaban soal ulangan catur wulan. Ironis, memang.

CITRA GURU

Orang mungkin beranggapan bahwa tidak ada gunanya membicarakan citra guru. Bahkan tidak mungkin justru akan memperburuk daripada memberikan masukan konstruktif. Adalah suatu yang tidak bisa dipungkiri bahwa peranan guru sangat besar bagi maju mundurnya dunia pendidikan. Kita sudah sering membicarakan problem pendidikan yang selalu mengalami perubahan sesuai dengan tuntutan masyarakat dan sekaligus merupakan sebuah tantangan. Begitu beragam masalah, tetapi karena pendapat kita berbeda, maka tinjauan mengenai masalah pun menjadi beda pula. Terkadang kita tak sabar, sehingga masalah pendidikan tetap menumpuk walaupun begitu banyak upaya dilakukan.

Pembicaraan citra guru memang sensitif, bisa membuat orang ‘merah telinga,’ karena pembahasan tentang citra sebuah profesi biasanya hanya ditekankan pada subyek bersangkutan sebagai aktor bebas dan lepas dari lembaga di mana ia berkecimpung. Terdapat dua dimensi saling bertentangan dalam menelusuri ‘biang kerok’ permasalahan citra guru. Pertama, guru sebagai aktor yang terikat pada komitmen profesi. Kedua, guru sebagai aktor yang terikat aturan-aturan serta tuntutan bersifat institusional.

Di tengah pengaruh kekuatan tersebut, guru merealisasikan diri dalam bentuk kerja mendidik. Kecaman dan pujian terhadap profesi guru berdatangan silih berganti. Tidak hanya berpulang pada guru itu sendiri, tetapi juga pada peraturan dan institutional-system di mana guru berinteraksi di dalamnya.

Sebagian masyarakat menginginkan seorang guru harus seorang idealis, mempunyai visi dan misi terhadap pendidikan secara jelas, sehingga profesi keguruan merupakan ajang perjuangan mewujudkan cita-cita pribadi sebagai seorang pendidik.

Juga harus diperhatikan bahwa idealisme tanpa kritik adalah mimpi di siang bolong penuh lelucon.

Serangkaian ungkapan berbau mitos ‘guru pahlawan tanpa tanda jasa,’ lantas dibuat hymne guru, pujian terhadap guru sebagai suatu profesi yang sejak ‘tempo doeloe’ sampai kini tetap dipertahankan. Profesi guru menempati kedudukan yang seolah-olah sakral. Pemerintah merasa berhutang pada jasa-jasa seorang guru, didukung penuh dan dilestarikan, bahkan diperhatikan kesejahteraannya.

Dalam kenyataan, arus perubahan masyarakat tidak selamanya seirama dengan keinginan segolongan orang. Pujian dan penghargaan profesi guru berubah menjadi bahan cercaan, sindiran berbau sarkastis. Keadaan seperti ini tidak dapat dipungkiri, karena merupakan sebuah realitas hasil daripada suatu interaksi sosial yang terus berkembang. Maka mitos yang dicuatkan di atas memang terlalu jauh dari realitas. Ia bisa dicurigai sebagai himbauan pilitis, untuk meraup massa dalam masa pemilu, untuk ketenangan nasional dan untuk menghargai sikap baik. Kebaikan adalah nilai utama yang harus tegak. Sementara keadilan belum waktunya diterapkan. Sebagai seorang guru maka yang bersangkutan harus memenuhi dan menunaikan kewajiban dengan baik sebelum memperoleh hak (kesejahteraan) yang wajar. Begitulah seorang yang baik harus berbuat, walau masyarakat tidak mau tahu-menahu. Ia punya nama tersendiri: suatu perubahan. Kebaikan itu nihil tak bermakna. Kebaikan itu patut dicurigai. Guru adalah jabatan profesional apapun minim gaji yang diterima. Kebaikan seorang guru rupanya tidak memperoleh sambutan membanggakan. Ia tetap dilecehkan. Minimnya gaji yang diterima menyelimuti kehidupan guru dan dunia pendidikan mendorong mereka bersifat stagnatif. Guru paling mudah menjadi sasaran para oknum birokrat.

TUNTUTAN KEHIDUPAN

Guru adalah manusia biasa tidak bisa melepaskan diri dari tuntutan kehidupan sebagai anggota masyarakat. Ia mulai membuka mata, melihat kemungkinan dirinya terlepas dari citra yang terlalu lembut, penyabar. Ia menggaet kesempatan untuk membuktikan bahwa dirinya bisa seperti orang kebanyakan, profesi non-keguruan. Ia mengubah orientasi pengabdian (idealisme) ke orientasi kebanyakan orang di zaman sekarang. Dengan cara seperti ini kondisi kehidupan mereka sedikit lebih baik. Ia pun memiliki keluarga yang harus dihidupinya dan anak-anak yang harus ditopang pendidikannya. Kita sering beranggapan bahwa kehidupan guru terjamin, karena dari mulut mereka hampir tidak pernah terdengar keluhan, meskipun tidak jarang, dalam himpitan kebutuhan hidupnya mereka diperlakukan sebagai buruh. Mereka bagaikan pengemis harus mengajukan permohonan untuk mendapatkan haknya atas kenaikan pangkat dan gajinya.

Satu sisi guru dituntut menguasai ilmu pengetahuan dan ketrampilan serta menyampaikannya dengan baik kepada siswa. Guru harus terus-menerus memantau perkembangan pelajaran anak didik mereka satu per satu. Guru harus mampu mengatasi semua permasalahan yang dihadapi siswa, termasuk dalam hubungannya dengan orang tua. Orang tua cenderung semakin menyerahkan pendidikan anaknya kepada guru, melupakan tanggung jawabnya sendiri. Di lain sisi masyarakat sering lupa bahwa kalau guru harus memenuhi tuntutan itu, berarti guru harus bekerja 24 jam sehari. Padahal dengan tingkat pendapatan yang sekarang, guru terpaksa harus mencari pendapatan tambahan untuk dapat menyambung hidup saja, belum lagi untuk membeli buku dan media komunikasi, serta mengikuti kursus-kursus. Memiliki komputer, apalagi berlangganan internet, hanya merupakan impian. Status sosial ekonomi guru semakin tertinggal dari keadaan yang ideal guna mendukung pelaksanaan profesinya.

Kesenjangan antara status sosial ekonomi guru dengan tuntutan masyarakat yang semakin besar ini menempatkan guru dalam posisi terjepit. Kalau mutu pendidikan turun, guru disalahkan. Maraknya perkelahian anarpelajar menjadikan guru sasaran umpatan.

Namun begitu, masih banyak kesan bahwa pilihan profesi keguruan diawali dari ketidakmampuan meraih jabatan yang lebih tinggi. Jabatan guru untuk sebagaian masyarakat dipandang sebagi sebuah pelarian bagi seseorang yang gagal dalam persaingan karir. Walau masih ada sebagaian kecil yang berpendapat bahwa profesi guru merupakan tugas mulia dan cita-cita hidupnya, sehingga dirinya menemukan eksistensi dirinya dengan tidak menghilangkan daya kritiknya.

Akhirnya, citra guru masihlah ditentutakan arus perkembangan zaman. Citra guru masih menggemakan jeritan panjang. Mereka berposisi sebagai obyek, disanjung sekaligus dihamparkan. Mereka belum tergolong intelektual kritis sekaligus belum dihar-gai secara sosial ekonomi.

(Supaat I. Lathief adalah praktisi pendidikan dan Ketua Kelompok Studi Filsafat, Agama dan Pembangunan Malang)


1 comments:

Anonim mengatakan...

saya sangat setuju karena guru juga manusia, punya keluarga yang memiliki keinginan dan kebutuhan sama dengan manusia-manusia lain. Ok

Poskan Komentar

 

  © 2009 Supaat I Lathief

Think Of Logic Blogger Template by Supaat I Lathief