Senin, 11 Januari 2010

..:: Membangun Mindset Profesionalisme ::..

download doc


Mindset, menurut James Arthur Ray, sebagai totalitas keyakinan, nilai-nilai, identitas, ekspektasi, sikap, kebiasaan, opini, dan pola pikir tentang diri sendiri atau orang lain, dan bagaimana proses kehidupan berlangsung.. Melalui mindset seseorang menafsirkan atau memaknai kehidupan. Pendapat lain mengatakan, mindset sebagai suatu sikap mental atau watak yang menentukan respons seseorang dan pemaknaan atas situasi yang dihadapinya (.....a fixed mental attitude or dispotition that predetermines a person’s responses to and interpretation of situation). Mindset dalam bahasa sederhana diartikan sebagai pola pikir.
Mindset (pola pikir) seseorang akan menentukan penafsiran terhadap situasi kehidupan dan mempengaruhi cara menangani berbagai persoalan kehidupan. Mindset atau pola pikir akan membantu manusia (guru sebagai kehidupan profesional) menyadari bahwa setiap respons yang telah diberikan kepada profesionalitasnya sebagai manusia (guru), dan setiap penafsiran yang dipergunakan untuk memahami situsi kehidupan (pembelajaran) yang dihadapi adalah hasil pembelajaran di masa lalu. Dengan demikian mindset (pola pikir) dapat diperbaiki atau bahkan diubah secara total. Setiap guru professional bukan hanya bisa learning, tetapi juga mampu untuk un-learning dan kemudian re-learning. Apa yang sudah dibentuk bisa dihancurkan dan dibentuk ulang dengan cara tertentu, sepanjang diinginkan oleh pemilik mindset tersebut.
Seperti halnya kecerdasan, mindset atau pola pikir bukan sesuatu yang statis dan permanen. Mindset merupakan suatu perangkat mental yang aktif dan dinamis jika dipergunakan dengan baik. Jadi, mindset merupakan hasil sebuah proses learning (pembelajaran) dan karena itu bisa juga diubah (unlearning) dan dibentuk ulang (relearning). Perubahan bisa dilakukan begitu cepat, tapi ada yang perlu waktu lama, tentu saja. Mindset bisa diubah oleh kesadaran diri sendiri, ada pula mindset baru berubah setelah mengalami peristiwa tertentu, pengalaman atau belajar, atau mungkin mindset diubah setelah memperoleh bantuan pihak-pihak tertentu yang memang kompeten dalam soal ini. Dengan kata lain, mindset yang berubah pada seorang guru tidak mengubah situasi dan lingkungan dimana mereka hidup (bekerja), melainkan mengubah diri mereka sendiri dari dalam.
Mindset, pikiran mempunyai pola. Pola menuju sebuah profesionalitas tertentu dalam memasuki abad ke-21, yang dicirikan dengan globalisasi dan penuh kompetisi dalam segala bidang. Pendidikan (sekolah) tak akan bisa bertahan tanpa profesionalisme, bukan sekadar profesionalisme biasa tetapi profesionalisme kelas tinggi, world-class professionalism, yang menyejajarkan sekolah kita dengan sekolah-sekolah lain di belahan nusantara, mungkin di seluruh dunia.
Visi pendidikan kita adalah ......berorinetasi global, mau tidak mau seluruh individu harus membangun mentalitas atau mindset profesionalisme. Sekolah kita yang berslogan a leading and outstanding school membangun mindset profesionalisme melalui pembinaan dan pengembangan: 1) mentalitas mutu, seorang profesional selalu menampilkan kinerja terbaik, bukan menampilkan the second best karena mereka mengetahui bahwa tindakan itu sesungguhnya merupakan bunuh diri profesi. Kita mengetahui bahwa hakikat profesi memang ingin mencapai suatu kesempurnaan dan memuaskan nurani, seperti: kekuatan diri (spirit), keindahan, keadilan, kebaikan dan kebergunaan. Jadi seorang guru profesional adalah standar kinerjanya tinggi, yang diorientasikan pada kesempurnaan mutu pendidikan; 2) mentalitas altruistik, seorang guru profesional selalu termotivasi berbuat baik, bermental goodness untuk dipersembahkan kepada kemaslahatan peserta didik atau masyarakat sebagai pelanggan pendidikan; 3) mentalitas melayani, seorang profesional harus selalu peduli terhadap lingkungan sekitar (peserta didik dan masyarakat). Seorang profesional harus memiliki sikap melayani secara tulus dan rendah hati kepada pelanggannya dan nilai-nilai hakiki profesinya sebagai pendidik; 4) mentalitas pembelajar, dalam kompetisi bidang apapun sangat diperlukan disiplin belajar yang tinggi dan berkesinambungan. Semakin hari, tuntutan masyarakat sebagai pelanggan pendidikan semakin tinggi dan kompleks, belajar dan berlatih merupakan sebuah keharusan dan harus merupakan budaya profesionalisme. Jadi, pendidik profesional adalah pembelajar terus menerus dan berkesinambungan untuk mempertajam kompetisi; 5) mentalitas pengabdian, seorang profesional haruslah memiliki mental pengabdian terhadap ilmu keguruannya, harus memiliki jiwa ketertarikan mendalam terhadap ilmu keguruannya, sehingga dalam hatinya terpanggil untuk mengabdi dalam bidangnya. Jadi, guru profesional adalah terjalinnya dedikasi penuh cinta dengan bidang keguruannya; 6) mentalitas kreatif, seorang guru profesional harus menguasai seni mengajar di dalam kelas atau di luar kelas. Mereka harus mampu melihat kekayaan dan keindahan dalam profesinnya sebagai guru, sehingga kekayaan dan keindahan tersebut memicu kegairahan baru, dan pada gilirannya menjadi mesiu kreativitas, budaya cipta dan inovatif; 7) mentalitas etis, seorang guru profesional harus mampu menerima semua konsekwensi logis dari profesinya. Seorang profesional sejati tidak akan mau mengkhianati etika dan moralitas profesinya demi sesuatu di luar profesi yang diembannya. Jadi, seorang profesional adalah kesetiaan pada kode etik profesi pilihannya (sebagai guru).
Sebuah pertanyaan, darimana seorang guru profesional memperoleh motivasinya sehingga mereka mampu bertahan, tumbuh dan berkembang di dunia profesionalisme keguruan? Motivasi seorang guru profesional selalu berasal dari ruang spiritual, dari sisi ini mereka memperoleh motivasi luhur seperti demi kemanusiaan, demi budaya dan peradaban, demi membantu orang-orang yang papa, demi bangsa dan negara. Begitu pula profesionalisme siswa, mereka harus memiliki ruang dan sisi-sisi spiritual untuk meningkatkan ketajaman berpikir dan berkreasi. Dalam menapaki abad ke-21 dan era kompetitif, profesionalisme guru dan kecerdasan siswa-siswi mutlak dipertaruhkan, jika tidak masyarakat akan berkata kepada kita: go to hell with filthyness.

0 comments:

Poskan Komentar

 

  © 2009 Supaat I Lathief

Think Of Logic Blogger Template by Supaat I Lathief