Rabu, 20 Januari 2010

..:: DELUSI ::..


Ketika sastra Indonesia dilanda hingar-bingar persoalan kehidupan masyarakat perkotaan, ketika itu sesungguhnya sastra Indonesia seperti mulai dilanda krisis identitas. Ia laksana kehilangan jati dirinya, kehilangan kekayaan budayanya. Bukankah sastra Indonesia Indonesia menjadi sangat problematik dan khas, justru ketika persoalan kebudayaan etnik yang menjadi ruh ibu budaya sastrawannya, coba ditawarkan sebagai alternatif tarik-menarik terjadinya ketegangan kehidupan masyarakat tradisional dan kehidupan dunia modern; ketegangan antara problem etnisitas dan globalitas.

“Kembali ke akar, kembali ke tradisi,” sesungguhnya merupakan seruan kesadaran kultural yang coba mengingatkan tentang kekayaan tradisi budaya Indonesia dengan segala rupa etnisitasnya, dengan heterogenitas masyarakatnya, dengan keberagaman sistem kepercayaannya. Itulah kebudayaan Indonesia yang khas, yang berbeda dengan kebudayaan bangsa lain. Maka, kembalilah ke akar, kembalilah ke tradisi, karena di sana ada potret keindonesiaan yang penuh warna-warni.

Novel Delusi karya Supaat I. Lathief ini, coba menggali, mengungkap, dan menawarkan persoalan etnisitas itu dalam kemasan sebuah kisah nostalgia: tentang potret anak desa, sistem kepercayaan, dan segala aspek yang hidup dalam ingatan kolektif masyarakat pedesaan di Jawa. Di sana, kita akan berjumpa dengan sesuatu yang eksotik dan menawan. Sebuah usaha kreatif telah diperlihatkan Supaat I. Lathief dengan sangat serius. Tentu saja saya bahagia membacanya dan memberi apresiasi yang tinggi atas usahanya itu.

Seoul, 18 Oktober 2009

Maman S Mahayana

0 comments:

Poskan Komentar

 

  © 2009 Supaat I Lathief

Think Of Logic Blogger Template by Supaat I Lathief